Seperti yang sudah diceritakan
diatas, setelah saya menjauh dari iis saya pun sedih. Tetapi kesedihan itu
tidak berjalan lama. Semua dimulai ketika saya dan teman teman saya sedang
duduk dan berbagi cerita di depan kelas. Ketika saya hanya sedang terdiam
mendengarkan teman teman saya berbicara ,disaat itulah saya melihat seorang
perempuan yang mempunyai mata yang cantik, berambut panjang dan lurus.pertama
melihatnya saya bagaikan terpaku dan terdiam. Jantung saya seakan akan
beredegup dengan kencan. Ketika dia jalan bersama seorang temannya yang baru
saja selesai dari pelajaran olahraga . saya pun tersadarkan ketika teman saya
menepuk saya sehingga saya tersadar dari lamunan saya. Saya benar benar seakan
akan tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Saya bagaikan dipertemukan oleh
seorang bidadari. Beberapa hari kemudian saya menanyakan kepada teman saya yang
satu kelas dengan perempuan tersebut. Disaat kami sedang membeli jajanan
didepan sekolah saya pun menanyakantentang anak perempuan tersebut, “ eh bro lu
tau ga anak perempuan dikelas lu yg tingginya sekitar segini (sambil
menunjukkan bahu) rambutnya panjang,lurus. Dia namanya siapa??” dengan rasa
penasaran yang tinggi saya menanyakan hal tersebut kepadanya. Lalu dia pun
menjawab “yang mana??..... ohh iyaaa iyaa dia itu namanya itu della. Dia
udah punya pacar tau” seketika saya pun sedikit patah hati, setelah mengetahui
gadis yang saya suka telah ada yang punya. Namun saya tidak peduli akan hal
tersebut. Setiap hari, setiap jam, setiap menit saya selalu berusaha untuk
dapet menatap matanya yang jelita itu. Pernah suatu ketika saat pelajaran matematika.
Saya dipanggil oleh salah satu teman perempuanya untuk berbicara diluar.
Sebenarnya saya sedikit risih karan saat itu seharusnya saya seadng mengerjakan
tugas. Lalu karana diizinkan oleh sang guru saya pun menurutinya. Saat di depan
kelas, Dia bilang “tunggu di depan taman saat jam istirahat nanti”. Dengan
senang hati saya menyetujui permintaannya tersebut. Setelah jam istirahat tiba
saya pun menemui mereka, didepan taman tersebut. Alangkah senangnya saat saya
melihat temannya itu datang besama dengan della. Namun harapan saya tidak
seperti apa yang terjadi. Awalnya saya pikir dia datang untuk menemui saya
namun ternyata ia datang karan salah satu temannya menminta nomor handphone
saya. Walau dalam keadaan kecewa saya tetap memberikan nomor handphone saya.
Demi saya dapat berbicara dengan dekat dengan dirinya dan menatap langsung
matanya dari dekat saya rela memberikan nomor saya kepadanya walau nomor
tersebut bukan untuk dirinya melainkan untuk temannya. Hari hari berlanjut tapi
entah kenapa rasa ini masih ada padanya, dan berlanjut sampai ke kelas 8
kenaikan pun tiba saat
kelas 8 saya masuk kekelas 8.4 sedangkan dia masuk ke 8.1 tak apa menurut saya
yang penting ruangannya masih sama sama diatas sehingga saya masih bisa mencuri
pandang darinya. Walaupun lokasinya tak sedekat sewaktu kelas 7 yang hanya
dibatasi oleh satu tembok, kini dikelas 8 dihalangin oleh 3 kelas. Disaat kelas
8 saya selalu menunggu nunggu kapan ia putus dari pacarnya sehingga saya dapat
mendekati dirinya. Hingga suatu ketika , ketika teman satu ekskul saya dan saya
sedang menunggu azan jum’at kami pun menunggu azan sambil bercanda canda, dan
sampai akhirnya ia menunjukkan sesuatu kepada saya”eh dat lu tau si afi ga??”
“iya gua tau, emangnya kenapa??” “diakan pacaran tau..” “iya apa??perasaan dia
diem diem aja tuh..” “ihh seriuss. Nih liat nih cewenya..” lalu dia pun membuka
facebooknya dan menunjukkan foto pacar teman saya tersebut. Lalu dengan rasa
terkejut ternyata perempuan yang dimaksud adalah si della!! Saya hanya
menarik nafas dalam dalam dan tanpa bersalah teman saya bilang “cakep yah..”
“hahaha iyah cakep banget (padahal sedih didalem hati)”. Semenjak kejadian
tersebut saya hanya bias besabar sambil menunggu. Terkadang dulu disaat saya
sering membuka facebook, saya suka cemburu ketika mereka berdua komen komenan
status, sambil bermesraan. Tpi saya selalu ingat bahwa dia ini teman saya tidak
mungkin saya merengutnya begitu saja. Hal tersebut semakin membuat saya dikelas
8 itu semakin terpuruk, dengan kelas yang hancur lebur, dan ditambah melihat
sang pujaan hati berada di hati teman sendiri. Disaat itu satu satunya cara
agar saya bisa berbicara dengannya adalah hanya dengan mengejeknya dengan kata
“cie” sebetulnya di kelas 8 itu benar benar cobaan didalam hidup saya selama di
smp.